Negri
Indonesia kini mengalami banyak hal yang cukup mengejutkan, dimana sebelumnya
terpilihlah Presiden Republik Indonesia dari kalangan rakyat biasa yaitu, Bapak
Joko Widodo atau yang kita kenal dengan sebutan Bapak Jokowi, kini setelah
dilantik, pada awal periode kepemimpinannya beliau membuat suatu keputusan yang
cukup menghebohkan. Sebuah keputusan yang cukup menghebohkan itu adalah
menghapus BBM bersubsidi dengan menaikkan harga BBM yang semula Rp 6.500,- per
liter menjadi Rp 8.500,- per liter dipenghujung akhir tahun 2014. Kenaikkan harga BBM tersebut membuat
kenaikkan harga pada semua jenis kebutuhan sehari-hari.
Kini,
diawal tahun 2015, tepatnya 1 Januari 2015, harga BBM yang semula Rp 8.500,- per
liter diturunkan menjadi Rp 7.600,- per liter. Hal ini tidak ikut serta
menurunkan harga kebutuhan pangan atau kebutuhan sehari-hari. Setelah
diberlakukan keputusan Presiden untuk menurunkan harga, pemerintah pun membuat
kebijakan-kebijakan terkait turunnya harga BBM.
Menko bidang Perekonomian,
Sofyan Djalil menjelaskan pemerintah akan membuat kebijakan terkait tarif
angkutan umum, sementara meski diakui sulit mengendalikan harga kebutuhan
pangan pemerintah akan terus berupaya memantau mekanisme pasar. Menteri ESDM,
Sudirman Said mengatakan pemerintah akan selalu memberi waktuuntukPertamia dan
pemilik stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU saat menerapkan kebijakan
baru terkait harga BBM. Pada kesempatan berbeda, anggota Dewan Energi Nasional,
Sonny Keraf mengatakan fluktuasi harga minyak mentah dunia harus dimanfaatkan
agar pemerintah lebih baik dalam mengelola energi dibanding sebelumnya.1
Walaupun
pemerintah sudah menghimbau untuk menurunkan harga, namun masih banyak para
pedagang dan sarana transportasi dan masih banyak lagi, yang tidak menurunkan
harga. Kenaikkan dan penurunan harga BBM sangat mempengaruhi harga kebutuhan
pokok dan sehari-hari dipasaran, dan menyebabkan kacaunya harga di pasaran.
Setelah premium dan solar
turun harga, akhirnya jenis pertamax juga turun harga. PT PERTAMINA menurunkan
harga pertamax menjadi Rp 8.800/liter. Turunnya pertamax juga disebabkan harga
minyak dunia yang melemah.2
Setalah PT Pertamina
menurunkan harga BBM, kini giliran SHELL juga ikut menurunkan harga BBMnya.
Mulai 2 Januari 2015 jam 11.00 WIB. BBM yang turun harga adalah jenis Super
yang setara pertamax. SPBU di Jakarta menjual dengan harga Rp 8.900/liter, yang
sebelumnya Rp 9.500/liter. Selain jenis super, Shell juga menurunkan harga BBM
jenis V Power yang kualitasnya setara Pertamax Plus. Jenis ini turun sebesar Rp
1.100 atau menjadi Rp 9.900/liter.3
Namun, SPBU Shell di
Bandung sedikit berbeda. Di Bandung harga BBM jenis Super dengan RON 92 turun
menjadi Rp 9.000/liter, selisih Rp 100 dengan di Jakarta. Lalu, jenis V Power
juga turun menjadi Rp. 10.000/liter, selisih Rp 100 juga.4
Rencana
pemerintah menurunkan kembali harga BBM juga sudah dijelaskan Menteri
Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil. Ia menyatakan pemerintah bakal
menurunkan harga BBM jenis Premium dan Solar mulai 1 Februari mendatang. "Akan
diturunkan lagi, karena harga minyak dunia sedang turun," ujarnya, Rabu, 7
Januari 2015.5
Seperti diketahui,
pemerintah memberikan sinyal harga BBM bersubsidi kembali turun. Dengan
perkiraan menjadi Rp 6.400-Rp 6.500 per liter. Hal itu disampaikan langsung
Presiden Joko Widodo.6
Wakil
Presiden Jusuf Kalla (JK) mengaku bangga terhadap hasil kinerjanya bersama
Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berani mengambil kebijakan tegas. Kebijakan
tegas yang dimaksud yaitu menghapus subsidi BBM premium. Selain itu, hari ini
pemerintah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), semen dan elpiji. Menurut
JK, pemerintah harus cepat mengambil keputusan dengan konsekuensi risikonya. (Maikel Jefriando, 2015)
Penurunan harga minyak mentah dunia menjadi faktor utama bakal diturunkannya harga jual BBM dalam negeri. Dalam perhitungan harga BBM Januari 2015, pemerintah menggunakan indikator harga minyak mentah US$ 60 per barel dengan kurs Rp 12.380 per dolar AS. Saat ini kontrak minyak mentah US$ 51,64 per barel.7
Rencana pemerintah
menurunkan harga BBM premium menjadi Rp 6.500
per liter dikatakan merupakan bentuk konsekuensi penghapusan subsidi. Analis
Energi Bower Group Asia Rangga R Fadilla mengatakan, dengan pencabutan subsidi
BBM untuk premium, maka harganya harus mengikuti harga minyak dunia. Rangga
mengungkapkan, saat ini harga minyak dunia sedang ambruk ke level di bawah US$
50 per barel. Kondisi sudah wajar diikuti dengan penurunan harga BBM premium.8
Ia menegaskan, pemerintah
juga bekerja agar harga-harga kembali turun. Harga barang turun tersebut juga
dapat menekan inflasi di bawah 5 persen. Ia mengaku, dirinya mendatangi para
pemilik usaha kebutuhan pokok setiap dua minggu sekali. Oleh karena itu ia
mengingatkan para pelaku usaha juga turut menekan inflasi.9
1Iris Gera, “Harga BBM Kembali Turun” Voice of
America diakses dari http://www.voaindonesia.com/content/hargabm-kembali-turun/2600795.html,
pada tanggal 16 Januari 2015 pukul 22.25
2 Tim
Redaksi, “Harga BBM Premium Turun, Shell Ikut Turunkan Harga di Jakarta dan
Bandung”, Majalah Berita diakses dari http://www.majalahberita.com/featured/harga-bbm-premium-turun-shell-ikut-turunkan-harga-di-jakarta-dan-bandung/1405,
pada tanggal 16 Januari 2015 pukul 19.43
3 Ibid.
4 Ibid.